PAROKI SANTA PERAWAN MARIA PURWOREJO

PAROKI SANTA PERAWAN MARIA PURWOREJO

Jl. KH. Wahid Hasyim No. 1 Purworejo 54111
Jawa Tengah - INDONESIA
Telp: (0275) 325272

selamat datang di mading mafita purworejo



de Chox Choir - Bawalah Persembahan

Mimbar radio

Mimbar Agama Katolik dapat anda dengarkan di Radio Amatron 3 FM (106,5 FM) setiap hari Minggu, Pukul 20.00 WIB dan di Radio Irama FM (88,5 FM) setiap hari Selasa, Pukul 18.30WIB


Tampilkan postingan dengan label Gereja. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Gereja. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 25 Juli 2015

TANDA SALIB +


Banyak dari antara kita yang membuat tanda salib dengan asal. Biasanya sih buru-buru aja karena malu dilihat orang, khususnya di tempat umum. Tidak dirasa gerakan tangan kita seperti orang mengusir nyamuk. Tidak jelas. 

Sudah pasti karena membuat tanda salib dengan asal, tidak sempat atau terpikir lagi mengucapkan "Dalam Nama Bapa dan Putra dan Roh Kudus. Amin". Padahal di dalam kalimat yang kudus itu kita semua dibaptis, diangkat menjadi anak Allah. Dalam kalimat kudus itu pula kita mengawali dan menutup doa-doa kita dengan penuh iman dan kepercayaan. 

Sudahkah kita membuat tanda salib dengan benar? Jangan anggap remeh gerakan sederhana ini karena sejak jaman Gereja awal, para Bapa Gereja telah membuat tanda salib. Maka dalam tanda salib kita pun berdoa, semoga Tuhan mengarahkan pikiran dan hati kita kepadaNya (dahi dan dada) dan gerakkanlah tangan kita untuk berkarya dan berbuat baik (pangkal lengan).


Di Dalam Nama Bapa dan Putra dan Roh Kudus. Amin!

Deo Gratias

Senin, 20 Juli 2015

BERSIAPLAH OMK INDONESIA

BERSIAPLAH OMK INDONESIA
(sebuah pesan dari KWI untuk OMK se indonesia)


SEJAK KAPAN GEREJA DISEBUT KATOLIK?


Banyak orang Katolik diserang oleh mereka yang mengatakan "Yesus tidak mendirikan Gereja!"
"Katolik itu buatan Romawi, bukan Yesus!"
"Katolik itu ga ada di Alkitab!"
Bagaimana orang Katolik menanggapinya? Apa benar pernyataan tersebut.. Mari lihat kembali Kitab Suci dan Sejarah Gereja..
Istilah ‘katolik‘ merupakan istilah yang sudah ada sejak abad awal, yaitu sejak zaman Santo Polycarpus (murid Rasul Yohanes) untuk menggambarkan iman Kristiani,[1] bahkan pada jaman para rasul, sebagaimana dicatat dalam Kitab Suci. Kis 9:31 menuliskan asal mula kata Gereja Katolik (katholikos) yang berasal dari kata “Ekklesia Katha Holos“. Ayatnya berbunyi, “Selama beberapa waktu jemaat di seluruh Yudea, Galilea dan Samaria berada dalam keadaan damai. Jemaat itu dibangun dan hidup dalam takut akan Tuhan. Jumlahnya makin bertambah besar oleh pertolongan dan penghiburan Roh Kudus.” (Kis 9:31). Di sini kata “Katha holos atau katholikos; dalam bahasa Indonesia adalah jemaat/ umat Seluruh/ Universal atau Gereja Katolik, sehingga kalau ingin diterjemahkan secara konsisten, maka Kis 9:31, bunyinya adalah, “Selama beberapa waktu Gereja Katolik di Yudea, Galilea, dan Samaria berada dalam keadaan damai. Gereja itu dibangun dan hidup dalam takut akan Tuhan. Jumlahnya makin bertambah besar oleh pertolongan dan penghiburan Roh Kudus.”
Namun nama ‘Gereja Katolik’ baru resmi digunakan pada awal abad ke-2 (tahun 107), ketika Santo Ignatius dari Antiokhia menjelaskan dalam suratnya kepada jemaat di Smyrna 8, untuk menyatakan bahwa Gereja Katolik adalah Gereja satu-satunya yang didirikan Yesus Kristus, untuk membedakannya dari para heretik pada saat itu -yang juga mengaku sebagai jemaat Kristen- yang menolak bahwa Yesus adalah Allah yang sungguh-sungguh menjelma menjadi manusia. Ajaran sesat itu adalah heresi/ bidaah Docetisme dan Gnosticisme. Dengan surat tersebut, St. Ignatius mengajarkan tentang hirarki Gereja, imam, dan Ekaristi yang bertujuan untuk menunjukkan kesatuan Gereja dan kesetiaan Gereja kepada ajaran yang diajarkan oleh Kristus. Demikian penggalan kalimatnya, “…Di mana uskup berada, maka di sana pula umat berada, sama seperti di mana ada Yesus Kristus, maka di sana juga ada Gereja Katolik….”[2]. Sejak saat itu Gereja Katolik memiliki arti yang kurang lebih sama dengan yang kita ketahui sekarang, bahwa Gereja Katolik adalah Gereja universal di bawah pimpinan para uskup yang mengajarkan doktrin yang lengkap, sesuai dengan yang diajarkan Kristus.
Kata ‘Katolik’ sendiri berasal dari bahasa Yunani, katholikos, yang artinya “keseluruhan/ universal“; atau “lengkap“. Jadi dalam hal ini kata katolik mempunyai dua arti, yaitu bahwa:
1) Gereja yang didirikan Yesus ini bukan hanya milik suku tertentu atau kelompok eksklusif yang terbatas; melainkan mencakup ‘keseluruhan‘ keluarga Tuhan yang ada di ‘seluruh dunia’, yang merangkul semua, dari setiap suku, bangsa, kaum dan bahasa (Why 7:9).
2) Kata ‘katolik’ juga berarti bahwa Gereja tidak dapat memilih-milih doktrin yang tertentu asal cocok sesuai dengan selera/ pendapat pribadi, tetapi harus doktrin yang setia kepada ‘seluruh‘ kebenaran. Rasul Paulus mengatakan bahwa hakekatnya seorang rasul adalah untuk menjadi pengajar yang ‘katolik’ artinya yang “meneruskan firman-Nya (Allah) dengan sepenuhnya…. tiap-tiap orang kami nasihati dan tiap-tiap orang kami ajari dalam segala hikmat, untuk memimpin tiap-tiap orang kepada kesempurnaan dalam Kristus.” (Kol 1:25, 28)
Maka, Gereja Kristus disebut sebagai katolik (universal) sebab ia dikurniakan kepada segala bangsa, oleh karena Allah Bapa adalah Pencipta segala bangsa. Sebelum naik ke surga, Yesus memberikan amanat agung agar para rasulNya pergi ke seluruh dunia untuk menjadikan semua bangsa murid-muridNya (Mat 28: 19-20). Sepanjang sejarah Gereja Katolik menjalankan misi tersebut, yaitu menyebarkan Kabar Gembira pada semua bangsa, sebab Kristus menginginkan semua orang menjadi anggota keluarga-Nya yang universal (Gal 3:28). Kini Gereja Katolik ditemukan di semua negara di dunia dan masih terus mengirimkan para missionaris untuk mengabarkan Injil. Gereja Katolik yang beranggotakan bermacam bangsa dari berbagai budaya menggambarkan keluarga Kerajaan Allah yang tidak terbatas hanya pada negara atau suku bangsa yang tertentu.
Namun demikian, nama “Gereja Katolik” tidak untuk dipertentangkan dengan istilah “Kristen” yang juga sudah dikenal sejak zaman para rasul (lih. Kis 11:26). Sebab ‘Kristen’ artinya adalah pengikut/murid Kristus, maka istilah ‘Kristen’ mau menunjukkan bahwa umat yang menamakan diri Kristen menjadi murid Tuhan bukan karena sebab manusiawi belaka, tetapi karena mengikuti Kristus yang adalah Sang Mesias, Putera Allah yang hidup. Umat Katolik juga adalah umat Kristen, yang justru menghidupi makna ‘Kristen’ itu dengan sepenuhnya, sebab Gereja Katolik menerima dan meneruskan seluruh ajaran Kristus, sebagaimana yang diajarkan oleh Kristus dan para rasul, yang dilestarikan oleh para penerus mereka.

Catatan Kaki:
Disarikan dari New Catholic Encyclopedia, Buku ke-3 (The Catholic University of America, Washington, DC, copyright 1967, reprinted 1981), hal. 261
St. Ignatius of Antioch, Letter to the Smyrnaeans, 8 

Sumber: www.katolisitas.org

Selasa, 28 Januari 2014

BAGIMANA INJIL DITULIS

Dokumen-dokumen

Semua penerbitan Perjanjian Baru dan khususnya Injil, entah dalam bahasa Inggris, Spanyol, atau bahasa-bahasa lain, adalah hasil terjemahan dari teks-teks asli yang ditulis dalam bahasa Yunani.

Naskah-naskah kuno yang berisi teks-teks ini disalin berkali-kali, sampai akhirnya setiap teks dirapikan, berkat penemuan mesin cetak; hal ini terjadi kira-kira tahun 456 dimana Guttenberg mencetak 

Kitab Suci yang pertama
Orang-orang yang menyalin teks-teks ini tidak dapat menghindari beberapa kesalahan. Dengan membandingkan berbagai teks, pengelompokkannya menurut perbedaan dan asal-usulnya, dan mengritiknya, kita dapat menentukan mana-mana saja teks asli yang diakui Gereja Katolik sebagai pernyataan iman para rasul dan sabda Allah. Pertanyannya: siapa yang menulis injil-injil yang pertama ini dan apa yang menjadi sumber mereka?

Beberapa naskah Perjanjian Baru yang hangus dari abad keempat telah diselamatkan. Naskah-naskah ini dikukuhkan oleh beberapa dokumen lainnya yang jauh lebih tua yang berisi paragraf-paragraf atau kadang-kadang kitab-kitab lengkap Perjanjian Baru. Selanjutnya, para penulis Kristen dari abad kedua dun ketiga sering kali mengutip teks-teks suci ynng sudah dikomentari. Injil Yohanes diperkiraan ditulis antara tahun 90 sampai 100, dan penggalan-penggalannya ditemukan di Mesir, sangat jauh dari tempat asalnya. pengnggalan-penggalan itu tertanggal antara tahun 120-130.

Selanjutnya, kita akan memberi perhatian khusus pada Injil-injil, meskipun Injil-injil bukan merupakan tulisan Perjanjian Baru yang paling kuno saat ketiga Injil pertama ditulis pada tahun 50-70, Paulus sudah mengirim surat-surat aslinya. 


Penulis-Penulis Injil 
Menarik untuk diperhatikan bahwa para ahli sejarah Gereja yang pertama sudah menyebutkan secara khusus orang-orang yang dianggap oleh tradisi sebagai penulis ketiga Injil sinoptik. Pada tahun 110, Papias dari Herapolis (dekat Efesus) menulis: "Markus, penerjemah Petrus, menulis dengan tepat, meskipun tidak dalam susunan yang teratur, semua yang diingatnya mengenai perkataan-perkataan dan perbuatan-perbuatan Tuhan. Ia menemani Petrus yang mengajar sesuai dengan kebutuhan waktu, bukan dalam bentuk suatu komposisi, dan ia tidak melakukan kesalahan dalam memasukkan beberapa hal yang diingatnya. Matius mengumpulkan perkataan-perkataan Tuhan dalam bahasa Ibrani dan selanjutnya setiap orang menerjemahkannya sesuai dengan kemampuannya". Pada tahun 185 Santo Ireneus, uskup dan martir, menulis, "Matius mewartakan injil di antara orang-orang Ibrani dan dalam bahasa mereka, sementara Petrus dan Paulus pergi keluar untuk menginjili Roma dan mendirikan gereja. Setelah mereka meninggalkan Roma, Markus, seorang murid dan penerjemah Petrus, menuliskan ajaran Petrus. Lukas, teman Paulus juga menulis sebuah kitab mengenai injil yang diajarkan oleh Paulus". Sumber-sumber kuno yang mana kita masih bisa menambahnya, diteliti dengan seksama oleh banyak ahli kitab suci modern, dan akhirnya mereka diterima sekali lagi sebagai informasi benilai sejarah. Selanjutnya, adalah suatu kesalahan untuk berpikir bahwa injil-injil telah ditulis dalam suatu kepingan oleh orang-orang seperti Matius, Markus atau Lukas yang pada suatu waktu tertentu memutuskan untuk mencatat dengan menuliskan pelayanan aktif dan ajaran Yesus.

Dari Tradisi Lisan ke Injil
Kita tahu bahwa Yesus telah wafat dan Ia wafat tanpa menuliskan apa pun. Yesus telah mengabdikan sebagian terbesar waktunya untuk membentuk kedua belas rasul yang telah dipilih-Nya. Mereka tinggal bersama Dia, sebagaimana kebiasaan dari murid-murid guru Yahudi. Yesus meminta mereka mempelajari ajaran-Nya dengan hati ketimbang melipat gandakan pengajaran-pengajaran-Nya, Yesus mengulangi kebenaran-kebenaran esensial dalam banyak cara. Kita tidak dapat meragukan itu bahwa setelah hari Pentakosta, perhatian mereka adalah memberi bentuk kepada perintah-perintah Yesus ini, yang kemudian menjadi katekismus Gereja Perdana. Pada awalnya para rasul memberi kesaksian tentang apa yang telah mereka lihat dan dengar. Lambat laun timbul kebutuhan untuk memiliki suatu catatan tertulis mengenai kesaksian mereka untuk menjaga ingatan: kita sendiri sering kali melakukan ini dalam suatu pertemuan, ketika sharing dari para peserta dicatat untuk kepentingan orang-orang yang tidak hadir.Komunitas-komunitas Kristen, di Palestina berbicara dalam bahasa Aram atau Ibrani sesuai dengan daerah atau lingkungan. Dengan demikian tulisan yang pertama dimunculkan dalam kedua bahasa ini. Lambat laun teks-teks yang berkaitan dengan apa yang diucapkan dan diperbuat Yesus dikelompokkan kembali; dalam hal ini komunitas-komunitas Kristen pertama meneruskan dari kesaksian lisan menjadi teks tertulis: dan itu adalah injil. Pada waktu itu komunitas-komunitas Kristen yang berbahasa Yunani telah menjadi kelompok mayoritas dan teks-teks kuno diterjemahkan ke daJam bahasa itu (Yunani).

Injii Yohanes
Ketiga penulis injil yang pertama tidak hanya berbeda dalam fokus mereka tetapi juga agak berbeda dalam menyajikan perbuatan perbuatan dan perkataan-perkataan Yesus; sebetulnya masing-masing mempunyai teologi-nya sendiri, caranya mengenal Yesus, dari pandangan yang mendalam serta kesaksian pribadi inilah yang akhirnya menentukan perbedaan.Dalam Injil Yohanes kita menemukan, bagian-bagian suaru injil kuno yang sesederhana lnjil Markus, dengan lebih banyak perbuatan daripada perkataan Yesus, yang mungkin telah disampaikan kepada komunitas umat Kristen di Samaria, dan yang ditulis dalam bahasa Aram. Inilah dasar dimana Yohanes mengembangkan uraian yang panjang mengenai Yesus yang memperlihatkan bahwa keselamatan mengubah umat manusia dan memperbarui ciptaan.

APAKAH KITA DAPAT MEMPERCAYAI PERKATAAN INJIL?
Sebagian besar dari kita mungkin sudah menanyakan ini: mengapa kita mempunyai empat kesaksian ketimbang satu? dan apa nilainya masing-masing, Mengikuti apa yang baru saja kita katakan akan lebih mudah mengerti apa yang menyusul:
  • Tidak semua perbuatan dan perkataan Yesus ditemukan dalam injil.
  • Berkenaan dengan kata-Kata Yesus, setiap penulis injil mengungkapkannya dalam caranya sendiri dan menerapkannya untuk pemahaman yang lebih baik bagi para pembacanya.
  • Kejadian-kejadian tidak selalu diceritakan berurutan sesuai dengan terjadinya; dan hal-hal yang dikatakan Yesus pada kesempatan yang berbeda dapat digabungkan dalam nas yang sama.
Ini tidak mengatakan bahwa kita tidak dapat mempercayai kesaksian para penulis injil. Kita tidak diberi sebuah "foto", sebuah rekaman kata-kata Yesus, tetapi sebaliknya empat pandangan yang berbeda yang saling melengkapi. Mengapa khawatir jika terdapat pertentangan-pertentangan tertentu dalam perincian-perincian, Jika di pintu gerbang Yeriko terdapat satu atau dua orang buta, apa bedanya dalam pesan pokok yang disampaikan ?.

Tempat Khusus Injil-injil dalam Literatur
Injil-injil adalah karya kekecualian khusus diantara karya-karya tulisan sepanjang zaman. Perbandingan-perbandingan tulisan-tulisan lain dari zamannya, Kristen atau bukan memperlihatkan suatu kontras luar biasa dalam injil, kesederhanaan keinginan untuk bersabar, sementara teks-teks yang lain, lebih mengutamakan apa-apa yang hebat, kompleks dan tidak berakar rumput. Seorang filsuf modern (bukan orang beriman) bertanya mengapa tidak dapat lebih banyak mukjizat di dalam Injil. Injil-injil memiliki jaminan keasliannya sendiri. Mempertimbangkan apa yang dikatakan dalam paragraf terdahulu, kritik modern belum dapat menemukan kekeliruan di dalam Injil meskipun ia telah memeriksanya dengan teliti dengan menggunakan kaca pembesar selama lebih dari satu abad. Apalagi: injil menyapa kita dengan suatu perasaan penuh arti setiap kali kita mampu membuka diri kita kepadanya. 


Mereka Meragukannya  
Masih banyak orang yang mempertanyakan kesaksian Injil. Kadang-kadang disebabkan karena mereka mengira mereka melihat pertentangan-pertentangan di dalam Injil; tetapi lebih sering karena tampaknya tidak mungkin bagi mereka untuk menerima mukjizat-mukjizat. Bahkan di antara orang-orang beriman yang mempelajari Injil, beberapa orang memiliki sejumlah keraguan berkaitan dengan nilai historis segala sesuatu yang dapat disebut mukjizat dalam arti harfiah. Hal ini mungkin disebabkan oleh kenyataan bahwa mereka telah dididik dalam budaya "ilmiah" yang hanya mengandalkan pengertian manusia untuk mengatasi setip masalah. dalam suatu dunia yang melindungi dirinya dengan asuransi, sedikit yang diharapkan dari Allah dan Allah tidak melipatgandakan mukjizat. Mereka berpikir sebagai berikut: Jika sekarang saya tidak dapat melihat apa pun yang sama dengan apa yang terjadi dalam Injil, bagaimana saya bisa percaya bahwa hal-hal semacam itu juga terjadi kemudian? Segala sesuatu barangkali berbeda jika mereka melibatkan diri di dalam komunitas-komunitas Kristen yang miskin atau tertindas. Di sana mereka mungkin dapat menyaksikan campur tangan Allah yang terus-menerus demi kebaikan orang-orang yang hanya dapat berharap kepada-Nya saja. Sesungguhnya, dalam kumuniras-komuniras ini dikatakan: Jika hari itu Allah mengerjakan mukjizat-mukjizat Itu, mengapa Ia tidak mungkin mengerjakannya pada zaman Yesus seturut kehendak-Nya?
Sesungguhnya, tidak mungkin mempelajari Injil secara parsial, sebagaimana yang bisa lakukan terhadap buku-buku lainnya karena lnjil mengajukan pertanyaan mengenai keseluruhan hidup kita dan bukan hanaya mengenai gagasan-gagasan tertentu. Jika kita mengambil bagian dalam iman para rasul, kita seharusnya tidak mengalami kesulitan untuk menerima Kitab Suci seraya menyadari pertanyaan-pertanyaan yang kritis. Tetapi, jika kita tidak memenuhi persyaratan-persyaratan yang akan memungkinkan kita untuk melihat Allah, kita merasa risih sampai menemukan alasan-alasan untuk mengurangi kesaksian Injil kepada sesuatu yang tampak masuk akal; yang berarti bahwa aJasan tersebut tidak akan mempertanyakan pendirian kita dalam hidup. Itulah sebabnya banyak orang, meskipun mereka mengagumi Injil dan menolak untuk menganggapnya sebagai suatu kebohongan, mencari ribuan alasan unruk menyangkal apa yang tampaknya mengguncangkan mereka; kesaksian lnjil tentang Allah menjadi manusia; seorang Allah yang bergaul di antara manusia dan yang membangkitkan orang dari mati.

Beberapa Penolakan 
Oleh karena itu, mereka secara khusus berpegang teguh pada dua argumen pokok:
  • Mereka mengatakan bahwa Injil ditulis bertahun-tahun setelah kematian Yesus di mana telah terbentuk sebuah gambaran yang suci tentang Yesus. Dengan demikian, mereka tidak menyatakan realitas Yesus yang sesungguhnya kepada kita, melainkan iman Gereja pada abad pertama. (Bandingkan dengan apa yang telah kita katakan mengenai waktu penulisan Injil).
  • Mereka juga mengatakan bahwa Injil adalah tulisan-tulisan yang dimaksudkan sebagai katekismus dan pengajaran untuk orang-orang Kristen: fakta-fakta yang bertujuan untuk mendukung apa yang mereka ajarkan. Karena itu, tidaklah penting apakah Yesus berjalan di atas air atau tidak; episode Itu ditulis untuk menunjukkan bahwa Yesus memiliki kekuasaan Ilahi.

Tetapi, bagaimana dengan para rasul?
Mereka telah menjadi saksi-saksi Yesus,dan peranan mereka adalah untuk tetap menjadi saksi-saksi resmi-Nya di dalam Gereja. Mereka tahu persis apa sesungguhnya yang telah terjadi; apakah mereka harus tetap diam sementara orang-orang membelokkan sejarah Yesus? Jaminan Injil ditemukan dalam struktur hakiki Gereja Katolik, yang tidak pemah merupakan suatu kelompok umat beriman yang secara spontan dikendalikan oleh antusiasme atau oportunisme.
 Injil berasal dari tradisi para rasul dan Gereja tetap memelihara tradisi karena Gereja mengakuinya di dalam Injil. Dalam tahun-tahun itu dan dalam abad benkutnya, Injil-injil yang lain ditulis: Injil petrus, Injil Thomas, Injil Nikodemus, Injll Pertama Yakobus. Akan tetapi, Gereja tidak menerima Injil-injil ini karena peristiwa-peristiwa fantastis yang tertulis di dalamnya, atau karena orientasi teologis yang tidak sesuai dengan ajaran yang diterima dari para rasul.

Sumber : Kitab Suci Komunitas Kristiani (Edisi Pastoral Katolik) 
              Iman Katolik